Rabu, 20 Mei 2009

Penyadapan tanaman karet

PENYADAPAN TANAMAN KARET

I. TUJUAN

Mengetahui cara-cara melakukan penyadapan tanaman karet.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas (Anwar, 2001).


Karet alam adalah salah satu komoditas utama sub sektor perkebunan di Indonesia. Data tahun 2006 menunjukkan luas areal tanaman karet di Indonesia adalah seluas 3,31 juta hektar (ha) dan menempati areal perkebunan terluas ketiga setelah kelapa sawit (pertama) dengan luas 6,07 juta ha dan kelapa (kedua) dengan luas 3,82 juta ha. Setelah karet, kopi adalah tanaman perkebunan yang menempati posisi keempat dengan areal penanaman seluas 1,26 juta ha dan kakao (kelima) seluas 1,19 juta ha. Produksi nasional karet pada tahun 2006 adalah sebesar 2,27 juta ton karet kering (KK) dengan produksi terbanyak berasal dari Sumatera (termasuk Bangka-Belitung dan Riau Kepulauan) dengan total produksi sebesar 1,66 juta ton. Produktivitas karet nasional pada tahun tersebut mencapai 868 kg KK / ha dan telah mengalami peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan satu dekade yang lalu yang hanya mencapai 575 kg KK / ha (tahun 1996) (Deptan, 2006).
Benih karet merupakan benih rekalsitran yang sangat cepat menurun daya kecambahnya selama dalam penyimpanan, dikarenakan berkurangnya kadar air benih. Benih rekalsitran merupakan benih yang sangat dipengaruhi oleh keadaan kadar airnya, sehingga kadar air suatu benih (khususnya benih rekalsitran) sangat diperhatikan agar benih tidak mengalami kemunduran. Kadar air optimalnya adalah 32-35%, dan benih dapat mati pada kadar air 12-20%, dan suhu simpan yang baik adalah 7-10oC (Anonim, 2005).
Menurut prakiraan bahwa potensi produksi karet dapat ditingkatkan mencapai 5.000 – 7.000 kg/ha/th. Klon-klon karet unggul yang dihasilkan sampai saat ini, mampu mencapai potensi produksi dengan rata-rata produksi selama 15 tahun sadap berkisar 1.500 – 1.800 kg/ha/th dalam penanaman skala komersial. Usaha untuk mendapatkan klon-klon yang lebih unggul terus diupayakan melalui program pemuliaan dan seleksi, untuk menghasilkan klon-klon unggul modern dengan produktivitas mencapai lebih dari 2.500 kg/ha/th pada tahun 2005 (Aidi-Daslin, 1995).
Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya. Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan dihasilkan (Suhendry, 2002).
Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta sama-sama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat. Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut (Maryadi, 2005).
Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuan dari penyadapan karet ini adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks akan berkurang apabila takaran cairan lateks pada kulit berkurang Kulit karet dengan ketinggian 260 cm dari permukaan tanah merupakan bidang sadap petani karet untuk memperoleh pendapatan selama kurun waktu sekitrar 30 tahun. Oleh sebab itu penyadapan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merisak kulit tersebut. Jika terjadi kesalahan dalam penyadapan, maka produksi karet akan berkurang (Santosa, 1986).
Menurut Pendle, lateks mengandung beragam jenis protein katena lateks adalah cairan sitiplasma, protein ini termasuk enzim-enzim yang berperan dalam sintesis molekul karet. Sebagian protein hilang sewaktu pemekatan lateks yaitu karena pengendapan dan karena terbuang dalam lateks skim. Protein yang tersisa dalam lateks pekat kurang lebih adalah 1% terhadap berat lateks dan terdistribusi pada permukaan karet (60%) dan sisanya sebesar 40% terlarut dalam serum lateks pekat tersebut (Pendle, 1992).
Musuh yang paling mengganggu para penyadap karet (Hevea brasiliensis) adalah hujan di pagi hari. Sebab jika kulit batang karet (balam) basah, getah akan luber keluar dari jalur (pelat) yang dibentuk oleh tarikan pahat. Jika hujan pagi, berarti hari libur para penyadap karet (penakok). Sedang musuh yang paling ditakutkan adalah hujan turun saat ngangkit (mengumpulkan getah dari sayak atau mangkuk penampung). Hasil memutari pohon-pohon karet satu kebun bisa jadi tanpa hasil jika air hujan meluberi sayak (tempurung penampung) cairan getah karet. Namun musuh yang paling dibenci para penyadap karet adalah harga getah/lateks “jatuh” sedang harga kebutuhan sehari-hari meninggi (Radjam, 2009).


III. METODOLOGI

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah pohon karet dewasa. Peralatan yang digunakan adalah pisau sadap, mangkuk, sigmat, cincin mangkok, pisau mal, talang lateks, dan tali cincin .
Cara kerja daripraktikum ini adalah dipilih pohon karet yang siap sadap atau memiliki kriteria siap sadap. Kemudian dibuat pola sadap: (a) bukaan sadap ditentukan 90-100 cm dari permukaan tanah, dan (b) bidang sadapan digambar dengan bentuk spiral dari kiri atas ke kanan bawah membentuk sudut 20-45˚ terhadap garis horizontal. Dilakukan penyadapan : (a) kulit pohon dibersihkan, (b) kulit pohon diiris dengan tebal irisan 1,5-2,0 mm, (c) kedalaman irisan 1,0-1,5 mm, dan (d) lateks ditampung dengan mangkuk sadap.


IV. HASIL PENGAMATAN

Peralatan sadap menentukan keberhasilan penyadapan. Semakin baik alat yang digunakan, semakin bagus hasilnya. Menurut Siregar (1995), berbagai peralatan sadap yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Mal sadap
Mal sadap berfungsi membuat gambar sadapan yang menyangkut kemiringan sadapannya, biasanya digunakan sebagai pola rencana penyadapan untuk jangka waktu tertentu (biasanya 6 bulan). Mal sadap dibuat dari sepotong kayu dengan panjang 130cm yang dilengkapi plat seng selebar + 4cm dan panjangnya antara 50-60cm. Plat seng dengan kayu membentuk sudut 120ยบ (Siregar, 1995).

2. Pisau sadap atas
Pisau sadap ada 2 macam, yaitu pisau untuk sadap atas dan pisau untuk sadap bawah. Pisau sadap harus mempunya ketajaman yang tinggi, karena berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapihan sadapan. Pisau sadap atas bertangkai panjang untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap atas dengan ketinggian di atas 130 cm (Nazaruddin, 1998).

3. Pisau sadap bawah
Ketajaman pisau berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapihan menyadap. Pisau sadap mempunyai tangkai yang panjang untuk mempermudah penyadapan. Pisau sadap bawah digunakan untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap bawah, ketinggian mulai 130 cm ke arah bawah (Siregar, 1995).

4. Talang lateks (spout)
Talang lateks berfungsi untuk mengalirkan cairan lateks atau getah karet dari irisan sadap ke dalam mangkok. Talang lateks terbuat dari seng dengan lebar 2,5 cm dan panjangnya antara 8-10 cm. Pemasangan talang lateks pada pohon karet dilakukan dengan cara ditancapkan 5 cm dari titik atau ujung terendah irisan sadapan. Penancapannya hendaknya tidak terlalu dalam agar tidak merusak lapisan kambium atau pembuluh empulur karet (Siregar, 1995).

5. Mangkok atau cawan
Mangkok ini berfungsi sebagai penampung lateks yang mengalir dari bidang irisan melalui talang. Mangkok ini biasanya dibuat dari tanah liat atau plastik atau aluminium. Paling baik adalah dibuat dari aluminium karena tahan lama dan bisa menjamin kualitas lateks. Namun sulit dicari dan harganya yang cukup mahal. Mangkok dipasang 10 cm di bawah talang (Siregar, 1995).

6. Cincin mangkok
Cincin mangkok berfungsi sebagai tempat meletakkan mangkok sadap atau cawan. Bahan yang digunakan untuk pembuatan cincin mangkok ini adalah kawat. Biasanya cincin ini digantungkan atau dicantolkan pada tali cincin. Diameter cincin dibuat sedikit lebih besar dari ukuran mangkok sadap agar mangkok bisa masuk ke dalam cincin (Siregar, 1995).

7. Tali cincin
Tali cincin berfungsi sebagai tempat untuk mencantolkan cincin mangkok sehingga mutlak harus disediakan. Biasanya tali cincin dibuat dari kawat atau ijuk. Letaknya pada pohon karet disesuaikan dengan keadaan cincin mangkok, jangan sampai terlalu jauh dari cincin mangkok. Sebagaimana talang lateks, kedudukan tali cincin juga berubah tiap periode tertentu (Siregar, 1995).

8. Meteran gulung (rol meter)
Meteran gulungan berfungsi untuk menentukan tinggi bidang sadap (meteran kayu) dan mengukur lilit batang pohon karet (meteran gulung). Meteran yang digunakan terbuat dari bahan lunak atau kulit. Meteran kulit disebut juga meteran gulung dengan panjang 150-200 cm (Siregar, 1995).

9. Meteran kayu
Fungsi meteran kayu ini yaitu untuk mengukur tinggi sadapan.Biasanya terbuat dari kayu (panjang 130 cm) dan berbentuk panjang pipih . Penggaris diletakkan dari permukaan tanah ke arah vertikal pada pohon karet sampai jarak 130 cm (Nazaruddin, 1998).

10. Pisau mal
Pisau mal berfungsi sebagai alat untuk menoreh kulit batang karet saat akan membuat gambar bidang sadap. Alat ini dibuat dari besi panjang dengan ujung runcing dan pegangannya terbuat dari kayu atau plastik. Bagian runcing inilah yang digunakan untuk menoreh kulit batang pohon karet (Siregar, 1995).

11. Quadri
Alat ini berfungsi untuk mengukur tebalnya kulit batang yang disisakan saat penyadapan. Tujuannya agar penyadapan tidak sampai melukai kambium atau pembuluh empulurnya. Alat ini terbuat dari besi, bagian ujung seperti jarum dengan panjang 1-1,5 mm (Siregar, 1995).

12. Sigmat
Alat ini berfungsi untuk mengukur tinggi sadapan. Ketebalan ± 10 cm. Sigmat ditempatkan pada bagian pohon yang akan diukur tebal kulitnya, ditekan sampai terasa keras atau tidak dapat menembus kulit lebih dalam lagi. Ketebalan kulit pohon diketahui degnan membaca skala (Nazaruddin, 1998).


V. PEMBAHASAN

Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman
Tipe penyadapan
1. Sadapan ke bawah (down ward tapping)
a. Faktor yang perlu diperhatikan : dalam rangka pemungutan hasil, faktor utama yang harus diperhatikan adalah kebersihan alat-alat (pisau sadap, mangkok, ember lateks, dll). Umur ekonomis tanaman ditentukan oleh cara dan system sadap disamping faktor lain.
b. Kriteria sadap : setelah tanaman berumur 5 tahun diadakan pengurangan lingkaran batang yang pertama. Kriteria untuk matang sadap adalah lingkaran batang harus mencapai 45 cm pada tinggi 1 meter diatas tanah untuk tanaman asal semalam dan 1 meter diatas pertautan untuk tanaman asal okulasi.jumlah tanaman yang memenuhi kriteria tersebut harus mencapai 60-70 % dari jumlah pohon persatuan luas.
2. Sadapan ke atas (up ward tapping) : sadapan keatas bukanlah suatu teknik sadapan yang hanya digunakan untuk sadapan yang hanya digunakan untuk sadapan mati pada tahun-tahun terakhir dari umur yang memberikan keuntungan ekonomis dari pohon karet. Teknik tersebut dapat juga sebagai sistem yang diintegrasikan dalam suatu program eksploitasi jangka panjang dari tanaman karet.

Intensitas sadap : menurut perjanjian sadap S/2, d/2 adalah 100%.
1. Tinggi pembukaan sadap
a. Sadap bawah
1) Pada tanaman okulasi : bukaan sadapan pertama kali dimulai pada tinggi 130 cm diatas pertautan. Disadap terus hingga 10 cm diatas pertautan. Sebelum dipindahkan alur sadap diperpendek hingga menjadi 2/3nya.
2) Pada tanaman asal biji : bukaan sadapan pertama kali dimulai pada tinggi 90 cm dari permukaan tanah. Disadap terus hingga 10 cm diatas permukaan tanah.sebelum pindah alur sadap diperpendek hingga menjadi 2/3 nya. Bukaan kedua kali dan seterusnya pada tinggi 130 cm dari permukaan tanah.
b. Sadap tinggi : baik tanaman asal biji maupun okulasi dapat disadap atas mulai pada tinggi 3 meter dari atas tanah, pada sisi yang bersebelahan dengan sadapan bawah. Disadap terus hingga titik rendah dari sadap bawah. Selanjutnya dibuka pada sisi yang bersebelahan
2. Arah dan lereng irisan sadap
a. arah irisan sadap : arah irisan sadap harus searah dengan arah jarum jam, dalam praktekcara menyadap ialah mengiris mulai dari kiri atas bergerak ke kanan bawah.
b. sudut irisan sadap : irisan sadap yang baik membentuk sudut 30-350 dengan bidang horizontal. Di Indonesia lazimnya sudut irisan sadap adalah 300. jika kelak dilakukan penyadapa ke atas (up ward tapping), langsung dipergunakan pembukaan irisan sadap dengan sudut 400.
c. bentuk irisan sadap: bentuk irisan sadapmerupakan spiral yang arahdari kiri atas ke kanan bawah. Bentuk V (tulang ikan) tidak dapat dianjurkan oleh karena bagian kanan dari sayatan lebih rendah produksinya.
d. panjang irisan sadap : pada dasarnya irisan sadap harus sependek mungkin. Panjang irisan sadapjangan melebihi setengah spiral. Penyadapan setengah spiral lebih sampai spiral penuh akan menekan pertumbuhan jika penyadapan sepanjang tahun tertuama pada pohon karet muda.
e. dalam irisan sadap : dalam irisan sadap seharusnya antara 1-1,5 mm dari cambium. Sadap yang lebih dalam (yaitu kurang dari 1mm mendekati kambium) dapat menghasilkan produksi tinggi akan tetapi hal ini akan menambah besarnya risiko terjadinya luka, kekeringan pohon dan penyakit bidang sadapan, sehingga membahayakan eksploitasi selanjutnya pada bidang sadapan tersebut.

Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan “umur dan lilit batang”. Diameter untuk pohon yang layak sadap sedikitnya 45 cm diukur 100 cm dari pertautan sirkulasi dengan tebal kulit minimal 7 mm dan tanaman tersebut harus sehat. Pohon karet biasanya dapat disadap sesudah berumur 5-6 tahun. Semakin bertambah umur tanaman semakin meningkatkan produksi lateksnya. Mulai umur 16 tahun produksi lateksnya dapat dikatakan stabil sedangkan sesudah berumur 26 tahun produksinya akan menurun.
Penyadapan dilakukan dengan memotong kulit pohon karet sampai batas kambium dengan menggunakan pisau sadap. Jika penyadapan terlalu dalam dapat membahayakan kesehatan tanaman, dan juga untuk mempercepat kesembuhan luka sayatan maka diharapkan sadapan tidak menyentuh kayu (xilem) akan tetapi paling dalam 1,5 mm sebelum kambium.. Sadapan dilakukan dengan memotong kulit kayu dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut kemiringan 30˚ dari horizontal dengan menggunakan pisau sadap yang berbentuk V. Semakin dalam sadapan akan menghasilkan banyak lateks. Pada proses penyadapan perlu dilakukan pengirisan. Bentuk irisan berupa saluran kecil, melingkar batang arah miring ke bawah.. Melalui saluran irisan ini akan mengalir lateks selama 1-2 jam. Sesudah itu lateks akan mengental. Lateks yang yang mengalir tersebut ditampung ke dalam mangkok aluminium yang digantungkan pada bagian bawah bidang sadap. Sesudah dilakukan sadapan, lateks mengalir lewat aluran V tadi dan menetes tegak lurus ke bawah yang ditampung dengan wadah.
Frekuensi sadapan adalah selang waktu penyadapan menurut satuan waktu dalamhari (d), minggu (w), bulan (m), dan tahun (y) tergantung dari sistem penyadapan.pada sadapan terus-menerus, penyadapan yang dilakukan setiap hari ditandai dengan notasi d/1, dua hari sekali d/2, tiga hari sekali d/3, dan seterusnya.
Contoh rumus penyadapan :
1.D/2 (2 x 2 d/4), penyadapan pada dua bidangsadap; masing-masing disadap bergantian; pohon disadap dua hari sekali.
2.D/3 (2 x y/2), penyadapan pada dua bidang sadap; masing-masing disadap bergantian tiap tahun; pohon disadap dua hari sekali.

Frekuensi penyadapan :
1.Frekuensi penyadapan: jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu
2.Penentuan frekuensi penyadapan berkaitan dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan.
3.Panjang irisan: ½ S (spiral).
4.Frekuensi penyadapan, 2 tahun pertama: d/3 (3 hari sekali) tahun selanjutnya: d/2 (2 hari sekali) panjang irisan dan frekuensi penyadapan bebas.

Waktu penyadapan :
Sebaiknya penyadapan dilakukan jam 5.00-7.30 pagi hari, dengan dasar pemikirannya :
1.Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran.
2.Lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang.
3.Pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang.

Sistem eksploitasi tanaman karet adalah sistem pengambilan lateks yang mengikuti aturan-aturan tertentu dengan tujuan memperoleh produksi tinggi, secara ekonomis menguntungkan dan berkesinambungan, sistem eksploitasi yang dikenal adalah:
1.Sistem eksploitasi konvensional : merupakan sistem sadap biasa tanpa menggunakan stimulan. Kelebihannya tergantung pada perangsang dansesuai dengan keadaan tanaman walaupun kurang baik pertumbuhannya. Kelemahannya kulit batang akan cepat habis.
2.Sistem sadap stimulasi : sistem sadap kombinasi dengan menggunakan perangsang. Pemberian perangsang dimakduskan untuk meningkatkan produksi yang dapat dilakukan pada pohon karet yanng telah berumur lebih dari 15 tahun.
3.Sistem eksploitasi tusuk atau mikro : sistem tusukan pada jalur kulit yang diberi perangsang yang dilakukan dengan cara menusuk kulit batang tanaman denagn jarum. Kelebihan sistem ini adalah produksi lateks tinggi, pelaksanaannya mudah, kandungan zat gula lateks tetap tinggi gerakan zat gula dalam kulit tidak terhalangi, kekeringan alur sadap dapat dihindari dan dapat dilakukan pada tanaman yang beruamur 3 tahun.



VI. KESIMPULAN

1.Sadap mantap untuk tanaman karet adalah bila lingkar batang mencapai 45 cm pada tinggi 1 m diatas permukaan tanah untuktanaman asal semai pertautan untuk tanaman asal okulasi.
2.Jumlah tanaman yang memenuhi kriteria tersebut 60-70% darijumlah pohon per satuan luas.
3.Kedalaman penyadapan harus diperhatikan jangan sampai mengenai kambium karena akan mengakibatkan luka pada tanaman, dan juga tanaman akan susah sembuh.
4.Sistem sadap yang dapat dilakukan adalah sistem eksploitasi konvensional, sistem eksploitasi stimulan dan sistem eksploitasi tusuk.
5.Sistem eksploitasi yang baik adalah sistem eksploitasi tusukkarena dapat dilakukan pada tanaman yang berumur 3 tahun sehingga memperpanjang umur ekonomis.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. The Opportunity of Plantation Investment In North Sumatera : Rubber. (http://www.bainfokomsumut.go.id/iptek04.php). Diakses tanggal 5 Mei 2009.

Anwar, Chairil. 2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.

Aidi-Daslin, 1995. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian Sembawa. Palembang.

Deptan. 2006. Basis Data Statistik Pertanian (http://www.database.deptan.go.id/). Diakses tanggal 5 Mei 2009.

Maryadi. 2005. Manajemen Agrobisnis Karet. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Nazaruddin dan F.B. Paimin. 1998. Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pendle. P.D. 1992. The Production, composition, and chemistry of natural latex concentrates in sensitivity to latex in medical device (FDA Ed.). Program and Proceedings of International Latex Conference, Baltimore, November 5-7,13.

Radjam, Syam. 2009. Musuh-musuh penyadap karet. (http://www.prabumulihdusunlaman.blogspot.com). Diakses tanggal 5 Mei 2009.

Santosa. 2007. Karet. (http://id.wikipedia.org/wiki/karet). Diakses tanggal 21 Maret 2009.

Siregar, T.H.S. 1995. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius, Yogyakarta.

Suhendry, I. 2002. Kajian finansial penggunaan klon karet unggul generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet. 21 : 1- 3.

2 komentar:

Ga Jelaz mengatakan...

Siregar ,1995 enggak nulis kayak gitu, itu tulisannya Tim Penulis PS. Terimakasih, mohon klarifikasi

agriculture world mengatakan...

thank you for article. very benefit

Poskan Komentar